Mama Cianting: Aba Farhan




Mama Cianting
Suara itu memecah kesunyian dalam diamku belajar menyelami diri sendiri. Katanya "Sowanlah ke pusara Mama Cianting". Nama itu masih asing, tak pernah ku dengar, apalagi ku kenal. Akan tetapi, nama itu meluncur begitu saja dari palung hati terdalam.

Kata Guruku, itu merupakan bagian hati yang tiada siapapun yang bisa masuk, kecuali engkau dan DIA. Bahkan, suatu saat kau pun akan tiada di dalamnya, namun DIA tetap kekal, karena DIA merupakan Kesejatian.

Kemudian, ku hubungi beberapa kawan, untuk memperoleh informasi tentang "Mama Cianting". Tak lupa ku mintakan juga informasi dari seseorang yang tinggal di Cianting. Orang tua dahulu memang sering menisbatkan ketokohan kepada nama sebuah daerah.

"Mama Rende", "Mama Sempur" dan "Mama Cianting" merupakan beberapa nama kiai besar yang dinisbatkan kepada nama sebuah daerah. Kepulan asap putih dari rokok kurusku mengiringi tawa kecil di sudut bibirku siang itu. Ternyata DIA memang senang bercanda dan menggiring hamba-NYA ke dalam kausalitas yang menggelitik.

Beberapa informasi ku peroleh tentang "Mama Cianting" siang itu. Esoknya, aku berangkat ke pusara beliau setelah sebelumnya shalat jum'at di masjid yang terletak di pesantren milik keponakan beliau. Kepada sang keponakan pun aku sempat pamit, aku meminta izin untuk menjalin silaturahmi batin dengan pamannya.

Pusaranya sangat sederhana, seperti kesederhanaan pribadi beliau semasa hidup. Informasi ini ku peroleh dari putera bungsu Mama Cianting, Ustadz Mamang. Katanya, Mama sangat bersahaja seperti kehidupan Mama Sempur dan Mama Rende. Mereka ternyata bersahabat.

Mereka merupakan pribadi yang menghibahkan diri mereka untuk melakukan perjalanan dalam sudut-sudut kesunyian. Mereka merupakan pribadi yang tidak pernah memaksakan ajaran kepada umat. Andai pun berijtihad, hasil ijtihad itu mereka pegang dan amalkan secara baik untuk diri mereka sendiri.

Adapun pengamalan untuk para jemaahnya, seluruhnya dilakukan berdasarkan kemampuan para jemaah sendiri, tanpa pemaksaan.

Thank You, Mama. Karena pertemuan kita di pusaramu, kini aku dilanda rindu.

Kang Aba Farhan,

Purwakarta, 6 Januari 2019.

======================================================================= DONASI PEDULI BENCANA ALAM TANPA MENGELUARKAN UANG KLIK DISINI

BERITA POLITIK PURWAKARTA KLIK DISINI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mama Cianting: Aba Farhan"

Post a Comment